blog

Proses desain logo bagi pemula (Part 1)

Orang bilang bahwa great logos don’t just happen. Bagi pegiat desain, hal ini benar adanya. Sebenarnya bagaimana prosesnya?

Logo adalah hasil dari sebuah proses yang relatif panjang dan rumit. Acapkali, pertanyaan-pertanyaan seperti “Emang bikin logo butuh waktu selama itu?” atau “Bisa nggak logonya agak ramean?” terlontar. While it’s true that customer is king, perlu diketahui bahwa desainer grafis selalu memiliki pertimbangan tersendiri dalam mendesain logo. Dalam post kali ini, kami mencoba menjabarkan beberapa tahapan dalam proses desain logo yang sering menjadi pertanyaan pemula.

Secara konseptual, logo didesain untuk menangkap esensi dari suatu brand dengan simbol/representasi visual. Pada level yang paling dasar, logo harus bisa menampilkan nama dari brand atau image dari produk/servis yang ditawarkan. Pada level yang lebih tinggi, logo harus bisa mewakili nilai, aspirasi, dan janji dari brand tersebut. Mari kita bahas tiap poinnya di bawah ini.

1. Nilai

Banyak brand memiliki nilai yang sulit didefinisikan dengan kata-kata. Hal ini bisa diatasi dengan penggunaan warna, bentuk, tekstur, pola, dan elemen-elemen desain lainnya. Tetapi, untuk membuat representasi yang tepat, seorang desainer harus menguasai konsep simbolisme dan ikonografi.

Warna adalah salah satu elemen yang digunakan untuk menyampaikan ide. Warna biru, contohnya, menyampaikan kesan serius dan terpercaya. Salah satu contohnya adalah logo Intel yang menggunakan warna biru untuk memberikan kesan korporat.

Logo Intel yang memakai warna biru.

2. Strategi

Dalam praktiknya, tujuan logo adalah untuk meyakinkan audiens dan menggerakkan mereka untuk memakai jasa suatu brand. Oleh karena itu, dalam mendesain logo, desainer harus paham target market dari brand. Brand memiliki audiens dan tujuan yang berbeda-beda, jadi tidak ada solusi yang sama—dan instan— dalam urusan desain.

Logo AirAsia dan Garuda Indonesia.

AirAsia dan Garuda Indonesia bergerak di bidang yang sama, namun target market mereka yang berbeda didefinisikan dalam treatment logo yang berbeda. Logo AirAsia terlihat lebih ramah berkat handwritten tipografi, sementara Garuda Indonesia tampak elegan berkat curve pada icon dan font serif.

3. Makna

Kebanyakan orang menganggap bahwa logo harus menggambarkan brand secara literal—kalau suatu brand menjual donat, maka logonya pun harus berbentuk donat. Tetapi, tren logo berkembang tiap tahunnya hingga konsep logo seperti ini pun menjadi outdated, klise, dan umum. Desainer paham bahwa logo bisa diekspresikan melalui metafora. Hal ini tentunya meningkatkan daya tarik logo.

Logo berikut meletakkan dua suku kata dari brand pada ketinggian yang berbeda untuk menciptakan kesan “tinggi” serta menggambarkan makna literal dari brand itu sendiri.

4. Nama

Kata Shakespeare, “What’s in a name?” Padahal, dalam desain logo, nama adalah elemen yang penting. Identitas suatu brand bisa didesain dalam wordmark atau logo yang berbentuk nama perusahaan dalam wujud teks saja.  Nah, treatment pada nama ini berperan penting dalam mengenalkan image brand.

Contoh wordmark dari brand Vans.



Tipografi aliran Bauhaus, misalnya, menciptakan kesan yang berbeda dengan Bodoni. Meski kedua style ini sama-sama menginspirasi font modern yang kita pakai dan kenal sekarang, keduanya seperti The Beatles dan Beethoven—berbeda. Karena font mempengaruhi persepsi audiens, pemilihan font pun perlu pertimbangan yang cukup.

Tags: No tags

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *